Sabtu, 23 Februari 2008

Keren Kan Hemm...


Berlandaskan Tradisi, Raih Modernisasi
KALAU di banyak negara tradisi merupakan hambatan kemajuan, atau persisnya hambatan modernisasi, maka tidak begitu dengan Jepang. Negeri Sakura ini justru dengan modal tradisi mampu masuk era persaingan global yang penuh nuansa modernisasi-kapitalistik. Maka, sangat masuk akal kalau Robert N Bellah pun menyatakan bahwa bukan protestanisme saja yang mampu membangkitkan semangat kapitalistik suatu bangsa. Pendapat Bellah itu sebagai antitesis Max Weber yang sebelumnya berpendapat bahwa kapitalisme muncul dari etika protestan.

Masyarakat Jepang membuktikan, tradisi justru bisa dijadikan landasan kokoh bagi pengembangan modernisasi, bahkan kapitalisasi. Kenyataan bahwa masyarakat Negeri Sakura ini mampu menjadi kekuatan industri yang maju, menggambarkan kehebatan kearifan-kearifan lokal (local wisdom) mengatasi arus globalisasi yang sangat Barat (western). Kearifan lokal itu tidak terkalahkan oleh penetrasi nilai-nilai Barat, sebaliknya menjadi kekuatan transformatif yang dahsyat.


Tradisi justru menjadi fasilitator kemajuan. Dengan tradisi, mereka mencapai Jepang yang modern seperti dicita-citakan oleh para samurai. Mereka memersepsi dan menerapkan tradisi tidak secara kaku, sehingga jangan heran kalau Anda pergi ke sana melihat anak-anak muda berdandan seperti layaknya anak-anak muda di New York, London, atau Paris. Pakaiannya trendi, rambutnya dicat merah, dengan gestur yang modernis.

Tapi, juga jangan heran, kalau di jalan-jalan Anda masih bisa melihat satu-dua orang yang mengenakan kimono. Itulah potret perpaduan antara niat untuk maju mencapai prestasi (need of achievement) dan spirit mempertahankan budaya lokal. Saya membayangkan, di benak mereka terpikir semangat ''saya modis, bahkan kapitalistik, tetapi saya adalah orang Jepang!''

Tidak Beragama?

Sikap dalam keberagamaan pun tidak jauh berbeda. Mungkin di antara mereka penganut Shinto, Buddha, Islam, atau Kristen, namun tradisi merupakan hal yang mereka pegang teguh. Walaupun Shinto, Buddha, Islam, atau Kristen, tetapi mereka tetap memegang tradisi sebagai landasan hidup.

''Orang Jepang itu sepertinya tidak beragama, Mas. Saya tidak pernah melihat mereka sembahyang, berdoa, atau melakukan ritual keagamaan. Apalagi anak-anak mudanya. Kalau yang tua-tua sih mungkin ada,'' kata seorang pekerja magang (kenshuusei) kepada saya. Pernah ada survei yang menyebutkan, di Jepang hanya satu di antara empat orang, yang percaya agama.

Jepang adalah contoh negara yang memisahkan antara agama dan budaya. Bagi mereka, agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda. Itulah sebabnya, dalam bisnis pun mereka tidak pernah membawa-bawa nama agama, tapi melandasinya dengan tradisi yang kuat. Contoh konkretnya adalah menjunjung tinggi kepercayaan (trust), disiplin, dan orientasi kualitas, yang ditopang oleh spirit kerja keras (bushido) dan semangat harga diri (samurai) seperti yang saya singgung dalam seri ke-2 laporan ini. Begitu pula budaya malu, sehingga tidak jarang mendorong seorang pejabat melakukan harakiri (bunuh diri) ketika terungkap melakukan korupsi.

Saya kira, ketertiban dan kebersihan dalam penataan kota pun dipengaruhi oleh budaya malu itu. Malu kalau membuang sampah sembarangan, malu kalau berbuat tidak terpuji, malu kalau tidak menghasilkan prestasi, dan seterusnya.

Silakan pembaca membandingkannya dengan keadaan kita di Indonesia. Masih adakah budaya malu di antara kita? Masih adakah orientasi kualitas yang melekat dalam pikiran kita? Bukankah kita sering berbuat kebalikannya; melanggengkan kekuasaan meskipun korup, melakukan distorsi kualitas demi kepentingan pribadi (vested interest)?

Ah, tapi sungguh saya tidak bermaksud melecehkan bangsa sendiri, karena sebenarnya bangsa kita memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang lebih hebat dari Jepang. Hanya saja, kita belum piawai mengelolanya dengan baik, belum pintar mengembangkannya menjadi kekuatan manifes sebagai keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Sayang memang!

Perpaduan antara tradisi dan spirit kapitalistis itu misalnya saya rasakan pada jamuan-jamuan makan dengan para pengusaha. Hampir semua jamuan itu diselenggarakan secara tradisional, dengan setting tatami (mungkin bisa diistilahkan sebagai lesehan), minum teh hijau (ocha), sake, makan ikan-ikan mentah (shusi), dan makanan tradisional lainnya. Pokoknya Jepang banget!

Makanan-makanan ala Amerika memang ada, seperti McDonald dan Kentucky Fried Chicken, tetapi dominasi tetap ada pada makanan-makanan tradisional. Apresiasi terhadap tradisi yang sangat kuat itulah yang nampaknya membuat Jepang hebat. Jadi, tidak perlu heran kalau makanan-makanan tradisional mereka pun go international. Restoran Jepang ada di mana-mana, makanan Jepang masuk di berbagai negara di dunia.

Suami Dijatah

Jepang memang berhasil memanfaatkan tradisi menuju modernisasi. Tapi tidaklah benar kalau dikatakan tidak ada pengikisan budaya lokal itu oleh globalisasi. Kesan ini misalnya saya peroleh dari beberapa informasi tentang peran perempuan (atau tepatnya istri) dalam rumah tangga.

Maaf kalau sekali lagi saya menyebut nama Nurudin; seorang pekerja di Kyoto asal Klaten yang menikahi perempuan Jepang. Dia adalah contoh pelaku yang merasakan perubahan nilai-nilai tradisi Jepang.

''Perempuan Jepang sekarang, tidak sama dengan perempuan Jepang generasi-generasi dulu. Kalau dulu mereka dikenal sebagai istri yang mengabdi penuh kepada suami, sekarang tidak persis seperti itu,'' katanya.

Istri-istri dari generasi masa kini tidak lagi melepaskan sepatu suami yang baru pulang dari kantor seperti istri-istri Jepang masa lalu. ''Tapi kalau gaji suami tetap sama dengan masa lalu, tetap ditransfer ke rekening istri. Suami hanya dijatah tiap bulannya,'' kata Nurudin yang sudah dikaruniai dua anak itu.

''Tapi sampeyan kan bisa cari duit lanang ta?íí tanya saya.

''Bisa mas. Maka, sepulang kerja saya memasok bahan-bahan makanan Indonesia untuk orang-orang Indonesia yang tinggal di sini,'' lanjutnya. Dari usaha sambilan itu, setidaknya ia bisa mengumpulkan uang sekitar 100.000 yen tiap bulan (sekitar Rp 800.000).

''Istri tahu tentang duit lanang itu?íí tanya saya lagi.

''Tahu, tapi tidak apa-apa, karena di sini itu biasa. Pokoknya, uang gajian suami itu memang menjadi hak istri, untuk keperluan anak-anak dan kebutuhan keluarga. Suami mendapat jatah dari istri. Nah, kalau ingin pemasukan tambahan ya harus cari sambilan,'' katanya.

Relasi suami-istri model Jepang seperti itulah yang kemudian sering memunculkan gurauan tentang suami Jepang: ''di rumah seperti kelinci, di luar rumah seperti macan''. Mengapa? Karena dijatah oleh istri. Makino, seorang pengusaha besar di Kosai pun mengiyakan gurauan tersebut.

Beberapa orang yang saya temui menjelaskan, filosofi ''jatah-menjatah'' itu berasal dari tradisi bahwa tugas suami memang mencari uang untuk menafkahi anak-istri. Adapun tugas istri adalah berbakti, mengabdi kepada suami. Jadi, semacam keseimbangan; prinsip timbal-balik.

Repotnya, tidak jarang yang sekarang adalah: gaji suami tetap ditransfer ke rekening istri, tapi tugas mengabdi belum tentu berjalan sesuai harapan. Timbul ketidakseimbangan. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup yang makin materialistis dan pragmatis. Lagi-lagi, inilah pengaruh globalisasi yang kapitalistik.

Perubahan nilai-nilai tradisi itu juga diakui pula oleh Ny Ita, perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki Jepang dan sekarang menetap di Tokyo. Dia adalah pemandu kami dalam kunjungan delegasi Kadin Jateng. ''Memang ada pergeseran nilai-nilai seperti itu. Ibu mertua saya misalnya, sampai sekarang masih menerapkan prinsip-prinsip pengabdian seorang istri kepada suami. Dia masih melepaskan sepatu suaminya. Tetapi, saudara ipar saya yang berusia lebih muda tidak lagi seperti itu,'' katanya.

Kenyataan itulah yang nampaknya mengubah pemeo zaman dulu, yaitu: ''kalau ingin bahagia, menikahlah dengan perempuan Jepang, makanlah masakan China, dan tinggal di Amerika''. Maknanya, perempuan Jepang itu kalau menjadi istri akan mengabdi penuh (ngabekti) sehingga suami bahagia; masakah China itu lezat, dan Amerika itu paling nyaman sebagai tempat tinggal karena demokratis.

Terlepas dari tradisi yang kuat, toh masyarakat Jepang tetap saja ''terseret'' arus global. Hanya saja, ''keterseretan'' itu tidak separah dibandingkan masyarakat-masyarakat lain di berbagai negara, termasuk Indonesia. Mereka masih mampu memanfaatkan nilai-nilai lokal (local genius) sebagai landasan untuk maju. Dalam konteks pemikiran John Naisbitt (dalam Global Paradox) inilah yang disebut think globally, act locally; berpikir global, bertindak lokal. (Adi Ekopriyono-62)
Read more.....

Cerita di Negeri Orang Pinter and Kaya



Kepercayaan, Disiplin, dan Kualitas
SEMBILAN hari tentu bukan waktu yang cukup untuk mengenal lebih dalam tentang budaya kerja Jepang. Tapi, setidaknya selama kunjungan di Negeri Sakura, itu saya dapat mencocokkan teori-teori yang ada di buku atau di bangku kuliah dengan kenyataan yang ada.

Kesan-kesan tentang budaya kerja itu, saya peroleh dari ngobrol dengan para pengusaha sambil minum teh dan menikmati ikan mentah atau belut bakar. Juga saya dapatkan dari wawancara dengan para pekerja Jawa Tengah di apartemen dan pabrik-pabrik.

Secara garis besar, terdapat tiga faktor yang menonjol dalam budaya kerja Jepang, yaitu kepercayaan (trust), disiplin, dan kualitas. Tiga faktor inilah yang nampaknya menopang sukses Negeri Sakura. Ketiganya dilandasi oleh dua semangat besar, yaitu kerja keras (bushido) dan harga diri (samurai). Wajar, kalau ada kegagalan, maka yang menanggung malu bukan organisasi atau perusahaan, melainkan para pekerja yang merasa kehilangan harga diri.

Ilmuwan Francis Fukuyama mengungkapkan, trust merupakan modal utama bisnis Jepang. Menurut dia, kepercayaan bermanfaat dalam ekonomi karena menekan biaya. Dalam bisnis, faktor ini mengurangi kebutuhan untuk merumuskan kontrak berkepanjangan, menghindari situasi tidak terduga, mengurangi konflik, dan kebutuhan proses hukum seandainya terjadi konflik.
Jadi, trust mengurangi biaya dan waktu yang sering dikaitkan dengan sistem pengawasan tradisional dan kontrak hukum yang formal. Kepercayaan membantu orang bekerja sama dengan lebih efektif, karena mereka lebih mementingkan kelompok daripada kepentingan individu.

Tanpa Kesepakatan Tertulis

Kebenaran tesis Fukuyama itu saya temukan ketika mengunjungi Sahara Industries Co, Ltd, di Kosai. President perusahaan penghasil suku cadang mobil itu, Koichiro Sahara menjelaskan, tidak ada nota kesepakatan tertulis (MoU) dengan perusahaan-perusahaan besar yang dipasoknya. ''Bisnis kami hanya berdasarkan kepercayaan dan kualitas,'' katanya.

Menurut pemimpin perusahaan keluarga itu, yang penting dia dapat menjamin kualitas produk. Setiap setengah tahun sekali, perusahaan besar melakukan audit kualitas terhadap produk yang dihasilkan perusahaannya. Sepanjang kualitas bisa terjamin, maka relasi bisnis pun lancar. Tapi begitu kualitas tidak bisa diandalkan putuslah hubungan bisnis itu.

Kepercayaan dan kualitas telah melandasi hubungan bisnisnya sejak 1967. ''Tahun 2006, angka penjualan kami mencapai 846 juta yen. Tahun depan kami berencana memperluas pabrik," kata Sahara yang mempekerjakan lima tenaga magang Jawa Tengah, dari 50 tenaga kerjanya. Produk yang dihasilkannya antara lain klakson, sensor temperatur air, dan perkakas pintu mobil.

Dari berbagai sumber, saya memperoleh informasi, Jepang menerapkan sistem produksi tepat waktu (just in time). Filosofi dasarnya adalah memperkecil kemubaziran (eliminate of waste), baik dalam waktu, material, maupun manajemen. Efisiensi, efektivitas, dan produktivitas sangat menentukan, karena mereka tidak memiliki sumber daya alam yang berlebihan.

Tujuan sistem produksi ini adalah kualitas terbaik, ongkos termurah, dan waktu pengiriman yang tepat. Itulah prinsip yang dikenal sebagai QCD (quality, cost, delivery). Pengendalian kualitas dilakukan dengan sistem total quality control (TQC) untuk mencapai nol kesalahan (zero defect).

Sahara menjelaskan, yang penting dalam bisnis adalah jaminan kualitas (quality assurance). Itulah sebabnya, ia benar-benar menjaga kualitas produknya, agar jalinan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar tetap terjaga baik. Bagi dia, jaminan kualitas adalah segala-galanya.

Budaya kerja keras itu diakui oleh hampir semua peserta program kerja magang Kadin Jateng yang saya temui. ''Kerja di sini seperti robot! Tapi baik untuk latihan, agar kami bisa bekerja keras dan disiplin. Bekal yang bagus untuk bekerja di Indonesia,'' kata mereka.

Satu hal lagi, yang diakui oleh mereka adalah manajemen kerja Jepang tidak memperlakukan karyawan sekadar sebagai faktor produksi. Para pengusaha berusaha mengangkat harkat pekerja, sehingga merasa menjadi bagian dari perusahaan. Maju mundurnya perusahaan adalah maju mundurnya pekerja sebagai stakeholder yang penting. Selain dari pengakuan pekerja, kesan ini pun saya rasakan dalam berbagai kesempatan pertemuan.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan kalau Nichiyu Yamamoto, seorang pengusaha di Kyoto, berhasil membina 15 tenaga kerja Indonesia untuk membangun usaha sendiri di Surabaya. ''Kami selalu menjalin hubungan baik dengan mereka, meskipun mereka sudah pulang ke Indonesia dan berhasil mendirikan usaha sendiri. Kami senang kalau lebih banyak lagi tenaga kerja Indonesia yang berhasil membangun usaha sendiri, karena itu berarti kami bisa melakukan transfer of knowledge dan transfer of technology," katanya.

Spirit Samurai

Tidaklah berlebihan kalau saya katakan, Jepang memang cermin yang tepat bagi bangsa kita: Indonesia. Bangsa, yang oleh beberapa pengamat sosial, bukan hanya mengidap penyakit lowtrust society melainkan distrust society; masyarakatnya mengidap krisis kepercayaan yang menjadi-jadi. Dalam kondisi seperti itu, mustahil kita mampu bangkit dari ketertinggalan.

Ada baiknya kita menengok ke belakang, melihat sejarah Jepang. Singkat kata, kemajuan Jepang berkaitan dengan spirit samurai. Menurut buku-buku sejarah, proses modernisasinya muncul sejak Restorasi Meiji (awal abad ke-19). Saat itulah para samurai menghendaki lahirnya Jepang yang modern.

Restorasi Meiji sukses, setelah melewati masa perang (jengoku jidai) zaman Tokugawa (sekitar abad ke-15 sampai 17). Setelah selesai era peperangan itu, Jepang mengalami masa damai sekitar 200 tahun, yang menjadi modal besar untuk mendidik bangsanya.

Pada masa-masa itulah, para samurai mengabdikan diri, mendidik anak-anak orang kaya, terutama kelas pedagang.

Untuk diketahui, masyarakat Jepang ketika itu memang berkelas-kelas; tertinggi adalah kelas samurai, kemudian kesatria, pedagang, petani, dan beberapa kelas lagi di bawahnya.

Modal itulah yang kemudian mendukung Restorasi Meiji. Sang kaisar mulai mengirim anak-anak muda untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Mulai muncul cerita, anak-anak muda Jepang yang ''mencuri'' ilmu, kemudian mengembangkannya lebih baik dari aslinya.

Pengembangan keilmuan (hasil ''mencuri'') itu kemudian melahirkan bangsa Jepang yang sangat maju di bidang teknologi, terutama sejak dunia memasuki era digitalisasi.

Seperti diungkapkan dalam teori ''angsa terbang'' (the flying geese), yang menggambarkan bahwa perkembangan dunia teknologi pada awalnya dipimpin oleh Amerika Serikat; ibarat angsa besar yang terbang paling depan, diikuti oleh angsa-angsa lain.

Pada saat dunia diterpa teknologi digital, mulailah Jepang ''menabrak'' Amerika dan ganti terbang paling depan. Nah, benar kan! Sekarang Jepang leading dalam teknologi digital dibandingkan dengan negara-negara lain. Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah, ''mencuri'' ilmu itu baik, asalkan dikembangkan dan melebihi ilmu aslinya.

Kepercayaan, disiplin, dan kualitas, tidak hanya bisa dilihat di perusahaan-perusahaan, melainkan juga hampir semua tempat di Negeri Sakura. Di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah, restoran-restoran, hotel-hotel, jalan-jalan, dan tempat-tempat umum yang lain. Di stasiun dan restoran misalnya, mereka dengan sangat disiplin antre untuk mendapat tiket KA atau memesan makanan.

Kereta api atau bus umum, selalu tepat waktu, bahkan dengan jadwal yang mungkin agak janggal di benak kita, misalnya berangkat pukul 14.37, tiba pukul 17.42. Artinya, bagi mereka waktu sangat berharga, bahkan dalam hitungan detik. Berbeda dari kita, yang seringkali kurang menghargai waktu, menoleransi ''jam karet'', atau kalaupun memperhitungkannya ya hanya dalam hitungan jam.

Kedisiplinan itu pula yang menyebabkan orang Jepang tertib dalam manajemen pengelolaan sampah. Sampai-sampai saya pun bingung setiap akan membuang sampah; selain karena tempat-tempat sampahnya yang sangat bagus (jangan bayangkan seperti tong sampah kita yang berceceran dan dikerubungi banyak lalat), juga karena pemisahan antara sampah kaleng, plastik, sampah basah, sampah kering, dan seterusnya. Kebingungan itu masih ditambah lagi dengan tulisan-tulisan huruf kanji.

Di balik semua itu, Jepang memang berhasil memadukan kearifan-kearifan lokal dan nilai-nilai global, menjadi kekuatan dahsyat dalam persaingan internasional. (Adi Ekopriyono-62)
sumber : SUARA MERDEKA
Read more.....

Pengalaman di Jepang


Pekerja asal Jateng Itu Rajin dan Ulet
Jepang terus menggeliat dalam era globalisasi. Dulu, Amerika Serikat (AS) memimpin perkembangan teknologi. Tapi, ketika teknologi dunia memasuki era digitalisasi, Jepanglah yang leading. Banyak pengamat yang mengungkapkan, Jepang sebagai negeri maju berbasis kekuatan budaya. Wartawan Suara Merdeka Adi Ekopriyono, 10-19 November mengunjungi negeri tersebut bersama rombongan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah. Berikut laporannya.
SIAPA bilang anak-anak muda Indonesia kalah dibandingkan dengan anak-anak muda dari negeri lain? Kekalahan itu hanya mitos yang dibesar-besarkan. Ingin bukti? Datanglah ke Kosai, Shizuoka, kota kelahiran taipan besar Jepang, perintis industri raksasa, Toyota Motor Corporation, Kiichiro Toyoda.
Di kota ini, seratus lebih anak muda dari Jawa Tengah bekerja di berbagai perusahaan. Mereka adalah tenaga magang (kenshuusei) dan praktik kerja (jisshuusei), peserta program kerja sama Kamar Dagang dan Indutsri (Kadin) Jateng dan Kadin Kosai.
Di kota itu, para pekerja dari Jateng terkenal sebagai pekerja keras, rajin, ulet, pintar, dan tidak banyak menuntut. Itulah kelebihan mereka dibandingkan dengan tenaga-tenaga kerja dari Brazil, China, Filipina, dan beberapa negara lain.
Setidaknya itulah yang diungkapkan pimpinan pusat pelatihan (kunren senta), Katayama Yoshio. Pusat pelatihan kerja milik pemerintah daerah Kosai, itu menjadi tempat para kenshuusei Jateng belajar mengenai dunia kerja di Negeri Sakura. Budaya, bahasa, dan keterampilan-keterampilan bekerja di perusahaan Jepang.
Latihan Kerja Keras
Program magang tersebut dimulai 14 tahun silam, dirintis oleh Ir Budi Santoso, yang saat itu Ketua Kadin Jateng. Pada tahun-tahun awal, jumlah lulusan SMA (sebagian D-3 dan S-1) yang dikirim hanya 17 orang, sekarang bertambah menjadi 36 orang per tahun.
Sebelum berangkat ke Jepang, calon kenshuusei masuk program pendidikan dan pelatihan di lembaga dan asrama Hikari-NBP (Hikari NihonGo Bunka Puroguramu), Jl dr Wahidin, Semarang. Mereka juga harus lulus tes kemampuan bahasa dan pengetahuan budaya Jepang, matematika dasar, wawancara, keterampilan, dan lain-lain.
Selama empat bulan, dengan pengawasan penuh mereka dididik dan dilatih secara intensif dalam kelas bahasa dan budaya Jepang. Hikari-NBP juga mempersiapkan mereka dengan pelatihan mental, fisik, dan kedisiplinan. Ini perlu, karena setelah di Jepang mereka akan mengikuti pelatihan dengan sistem kerja keras Jepang yang membutuhkan kedisiplinan tinggi, serta menghadapi empat musim yang memerlukan ketahanan fisik dan mental yang kuat.
Setelah masuk Jepang, anak-anak muda Jateng itu mengikuti pendidikan dan pelatihan di kunren senta. Mereka belajar bahasa, terutama listening dan budaya Jepang selama tiga bulan. Muh Rifai dari Semarang dan Didik Widianto (Ungaran), yang keduanya masih sekitar tiga minggu berada di Kosai, mengaku masih beradaptasi dengan iklim. Saat ini Jepang memasuki musim gugur, dengan suhu udara antara 10-17 derajat Celcius. Dingin.
Jangan heran, dua pelajaran penting yang mereka dapat adalah tata cara naik sepeda dan membuang sampah. Mengapa? Karena sepeda akan menjadi alat transportasi utama mereka pulang-pergi dari apartemen ke tempat kerja.
Mengapa sampah? Karena Jepang menerapkan sistem pembuangan sampah dengan sangat teratur dan ketat. Ada pemisahan sampah logam, plastik, sampah basah, sampah kering, yang harus dibuang di tempat sampah sesuai dengan tiap-tiap kategori. Jadi, wajar kalau kota-kota di Negeri Sakura ini selalu bersih.
Setelah itu, anak-anak muda Jateng tersebut mulai melakukan pelatihan kerja paroh waktu di perusahaan. Separoh hari sisanya masih mengikuti pelatihan di kunren senta. Sebulan kemudian, baru mereka bekerja penuh.
Dalam tahun pertama, setiap kenshuusei peserta program Kadin mendapat gaji 90.000 yen (sekitar Rp 7,2 juta) per tahun. Separohnya (45.000 yen) ditabung di perusahaan. Mereka juga mendapat tunjangan untuk asuransi kesehatan dan apartemen, termasuk biaya listrik dan air.
Tahun kedua dan ketiga, gaji meningkat, mencapai antara 200.000 sampai 250.000 yen (Rp 16 juta ñ Rp 20 juta) per bulan. Mereka juga berhak lembur di luar jam kerja dengan tambahan pendapatan cukup menggiurkan, karena status sudah bukan magang lagi, melainkan peserta kerja praktik (jisshuusei).
Nurudin, seorang pekerja di Kyoto dari Karanganom Klaten, mengaku mendapat uang lembur 1.760 per jam (sekitar Rp 1,4 juta). Tidak mengherankan kalau dia mampu membeli satu hektare sawah di desanya, senilai sekitar Rp 250 juta. Dulu, Nurudin adalah peserta magang program International Medium Man-power (IMM) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Kenshuusei peserta program Kadin, setelah tiga tahun bekerja di Jepang mendapatkan sertifikat keterampilan kerja dan sertifikat bahasa Jepang dari Pemerintah Jepang. Pada akhir program itu, mereka juga menerima uang hasil tabungan dari perusahaan, senilai 45.000 yen dikalikan 12; jadi 540.000 yen, kira-kira Rp 43,2 juta. Beberapa kenshuusei mengaku pada akhir program bisa membawa pulang ke Indonesia lebih dari Rp 200 juta.
Keunggulan tenaga-tenaga kerja dari Jawa Tengah (dan Indonesia pada umumnya) mendorong makin banyak perusahaan Jepang yang membutuhkan mereka.
Sekretaris Kadin Izumi, Osaka, Hashimoto Takatsugu misalnya, mengharapkan makin banyak lagi kenshuusei dari Jateng. Itulah sebabnya, Kadin Jateng pun berusaha memenuhi kuota pengiriman tenaga kerja magang sebanyak 90 orang per tahun. Langkah yang ditempuh antara lain dengan merintis kerja sama baru dengan Kadin Izumi dan Kyoto.
Seorang pengusaha di Kyoto, Akihisa Yamamoto menyambut baik rintisan itu. Di perusahaannya, Nichiyu Electric Lift Truck, yang memproduksi suku cadang forklift, dia mempekerjakan enam tenaga kerja Indonesia; lima di antaranya dari Jawa Tengah, seorang dari Bali.
Niat Berwirausaha
Sebagian besar kenshuusei dan jisshuusei bekerja di perusahaan-perusahaan yang memproduksi suku cadang kendaraan bermotor dan mesin-mesin industri.
Sebagian anak-anak muda Jateng itu ternyata bercita-cita membangun usaha sendiri kalau program selesai dan pulang ke Indonesia. ''Dengan modal yang terkumpul di sini; modal uang dan pengalaman, saya berniat membuka usaha sendiri, berwirausahalah,'' kata Aji dari Semarang, ketika saya temui di apartemennya, di Kosai. Tahun ini ia kembali ke Tanah Air.
''Berapa rupiah modal yang telah Mas Aji kumpulkan? Rp 150 juta, Rp 200 jutaÖ?'' tanya saya.
''Wah, ya lebih ta Mas!'' kata Eko, yang meninggalkan bangku kuliah di Fakultas Sastra Unnes dan memilih ikut program Kadin. Eko sendiri, masih setahun lagi menyelesaikan program itu, dan juga ingin menjadi wirausahawan kalau sudah pulang.
''Kami juga ditawari bekerja di anak perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. Tapi, nampaknya lebih baik berusaha sendiri dengan modal yang ada,'' katanya.
''Mengapa tidak ingin melanjutkan bekerja di Jepang saja, kan bayarannya besar?'' tanya saya lagi.
''Nggak ah Mas. Di sini itu untuk cari duit saja, jangan selamanya. Kerja di sini seperti mesin; monoton dan disiplin keras. Sehari-hari ketemu orang yang sama, masalah yang sama, bahkan makan dan ke wc pun bersama-sama, karena jadwalnya bareng dan ketat,'' katanya.
Berbeda dari Aji dan Eko, Tuban dari Pemalang masih menimbang-nimbang akan berusaha sendiri atau melanjutkan kerja di anak perusahaan Jepang di Jakarta. Tuban juga masih harus merampungkan programnya setahun lagi.
Untuk mengantisipasi peluang kerja bagi para peserta program yang kembali ke Tanah Air, Ir Budi Santoso sudah menjalin hubungan dengan beberapa perusahaan di Indonesia untuk dapat merekrut mereka. ''Beberapa pengusaha sudah menyatakan siap menampung mereka, dengan gaji sesuai dengan standar keterampilan,'' katanya.
Tapi, bagi yang ingin membangun usaha sendiri, Budi juga menyambut baik, karena hal itu akan mengembangkan semangat kewirausahaan dan ikut memberi kontribusi dalam mengurangi pengangguran.
Sejalan dengan itu, Direktur Hikari-NBP, Agrita Puriani pun mengharapkan, dengan modal yang diperoleh selama tiga tahun di Jepang para kenshuusei mampu mengembangkan usaha sendiri di daerah masing-masing. (60)


sumber : SUARA MERDEKA

Read more.....

Senin, 18 Februari 2008

Adikku Tersayang


Namanya Bustanul Arifin, ini sama teman2 nya lagi berjuang di negeri sakura. Mudah2an aja Alloh SWT selalu memberi kemudahan, kesehatan, jalan yang lapang and yang tak kalah puentingg kekuatan memperbaiki diri dengan selalu beriman kepada-Nya.
Read more.....

Rumaisha Qaulan Sadida



Ini putri tercintaku, poto ini dia masih setengah taun. Tapi sekarang dah pinter ngomong, minta jajan, ngeyel dan masih banyak lagi. Usianya sekarang dah skitar 20 bulan lho, poto terbaru sih belum ada, makanya pakai poto yang lama. Dia ini keponakannya Om Tanul lho..yang tampangnya ada di sekitar ini nih..Orange keren pisan ama temen2nya mirip group band backstreet boys. Iya kan ..he..he..he..
Read more.....

Minggu, 17 Februari 2008

Jangan pandangi aku seperti ini


Jangan di pandang lama-lama nanti kamu jadi marah lho..he...he..., habisnya cakep buanget kayak bintang film planet mars kali ya, tapi Alhamdulillah sudah bisa nampang disini dengan leluasa, syukur2 dapat banyak kiriman. Wualah apaan lagi itu hemmm. Read more.....

Sabtu, 16 Februari 2008

Obat Ejakulasi dini

Ejakulasi Dini
Anti-Depresi Menunda Orgasme

Ilustrasi - "Anti-Depresi Menunda Orgasme" (GATRA/Fritz Pelenkahu)SUDAH delapan tahun pria 36 tahun ini mengarungi bahtera rumah tangga. Yang menyedihkan, dalam kurun waktu itu, warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini belum bisa memuaskan kebutuhan seksual istrinya. Setiap kali akan melakukan penetrasi, ia keok duluan. Sperma sudah keluar sebelum penis masuk ke dalam vagina. Sampai kini, karyawan swasta itu belum dikaruniai anak.

Ia sudah mencoba berbagai pengobatan alternatif dan obat-obat ilegal yang dijual di pasaran. Toh, tak banyak membantu. Pada akhir tahun lalu, ia menemui seorang dokter. Setelah berkonsultasi beberapa kali, dan diterapi, masalahnya mulai teratasi. Ia bisa melakukan penetrasi. "Saya puas, meski baru masuk sperma sudah keluar," ujarnya.

Ari, sebut saja begitu, hanyalah salah satu contoh kasus penderita ejakulasi dini yang tergolong kronis. Belakangan, penderitanya memang makin meruyak. Angka yang besar mendorong pabrik obat berlomba melakukan penelitian mencari penangkal mujarab. Salah satunya Alza Corporation, anak perusahaan Johnson & Johnson. Jika Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) memberi lampu hijau, pabrik obat yang bermarkas di Mountain View, California, Amerika Serikat, itu bakal segera melempar produk barunya.

Merek obat itu belum disebut, tapi kandungan zat aktifnya sudah diketahui: dapoksetin hidroklorida. Seperti dikutip situs BBCNews.com, Selasa pekan lalu, obat tersebut terbukti dapat menunda orgasme pria. Pekan ini, Profesor Jon L. Pryor, ketua tim peneliti, direncanakan mempresentasikan enam halaman ringkasan risetnya dalam pertemuan tahunan Asosiasi Urologi Amerika di Amerika Serikat.

Pryor bersama koleganya melakukan studi terhadap 2,614 pasien penderita ejakulasi dini berusia 18-77 tahun. Semua pasien itu setia melakukan hubungan seks monogami minimal enam bulan. Sebelum diberi obat, mereka ditanya keluhannya bermain seks. Sebagian besar mengeluh, kurang dari dua menit berpenetrasi sudah ejakulasi. "Malah ada yang kurang dari satu menit," ujar Pryor. Patokan inilah yang dipakai peneliti untuk melihat efektivitas obat tadi.

Pasien dikelompokkan dalam dua grup. Satu grup diberi 30 mg atau 60 mg dapoksetin selama lebih dari tiga bulan. Grup lain dicekoki plasebo (obat bohongan). Lalu pasien ditanya 1-3 jam sesudah hubungan. Mereka juga dibekali jam pencatat kecepatan untuk melihat kapan ejakulasi terjadi.

Pada dua pekan pertama penelitian, tak banyak perubahan pada pemakai dapoksetin. Sebanyak 75% pasien masih ejakulasi kurang dua menit. Tapi, setelah itu, terjadi penurunan kasus ejakulasi dini. Ejakulasi dini bisa ditunda 3-4 kali lebih lama.

Bahkan tingkat kepuasan seksual mereka bertambah. Untuk pemakai dapoksetin 30 mg, sebelum berobat kepuasannya cuma 2,5%. Setelah menenggak pil dapoksetin, meningkat menjadi 38%. Lalu untuk dosis 60 mg, dari 22,3% menjadi 46,5%. Sebaliknya, pengonsumsi plasebo cuma meningkat dari 21,6% menjadi 24,6%. Menurut Pryor, kepuasan seks pasangan mereka ikut melonjak. Efek samping? Tak terlalu banyak. Cuma mual dan sakit kepala.

Sebenarnya dapoksetin bukanlah obat baru. Sebelumnya sudah dipakai luas untuk penyakit gangguan jiwa. Ia bergolongan sama dengan Prozac, yang kerap dipakai sebagai obat antidepresi, yaitu golongan serotonin selective reuptake inhibitor. Tapi, karena hasil studi terakhir menunjukkan efek positif pada penderita ejakulasi, Alza mengajukan permohonan ke FDA. Jika disetujui, dapoksetin diklaim sebagai obat pertama di dunia yang khusus mengatasi ejakulasi dini.

Itu persis seperti yang dialami sildenafil. Zat aktif obat disfungsi ereksi bermerek Viagra ini sebelumnya sudah dikenal sebagai obat penyakit jantung. Namun, lantaran dianggap sukses mengobati penis loyo, pil biru itu pun diklaim sebagai obat disfungsi ereksi. Dan, FDA merestuinya.

Obat ini tentu memberi harapan bagi banyak pria. Menurut Dokter James H. Barada, urolog pada Pusat Kesehatan Seksual Pria, Albany, New York, Amerika Serikat, sepertiga laki-laki di dunia menderita ejakulasi prematur. Tak jelas angkanya, tapi 27%-34% laki-laki dari yang mengalami gangguan seksual kena ejakulasi dini. Ini lebih besar dari disfungsi ereksi yang cuma 12%.

Di Indonesia, angkanya tak jauh berbeda. Akmal Taher, urolog pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengaku bahwa setiap bulan Klinik Impotensi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo kedatangan lima pasien ejakulasi dini. "Ini adalah 15%-20% dari total kunjungan ke klinik tersebut," katanya.

Rata-rata pasien berumur 35-45 tahun. Ini berbeda dengan penderita disfungsi ereksi yang rata-rata di atas 50 tahun. Mereka yang datang biasanya berasal dari tipe yang gampang stres dan gelisah. Ketika pertama kali datang, mereka tidak langsung mengaku mengalami ejakulasi dini. Setelah dikorek, mereka bersedia bercerita banyak. Mereka pun datang ke dokter setelah gagal mencoba pengobatan alternatif dan obat bebas.

Menurut Wimpie Pangkahila, seksolog pada Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Universitas Udayana, ejakulasi prematur terjadi, antara lain, karena serotonin di otak tak berfungsi baik sehingga ejakulasi tak bisa diperlambat. Penyebab lain, beban stres dan kelelahan. Untuk itu, diperlukan obat yang mengatur aktivitas serotonin di otak.

Menanggapi dapoksetin, Wimpie mengakui belum pernah meresepkannya. Tapi banyak obat yang bergolongan sama dengan dapoksetin yang sudah beredar di sini. Ia menyebut klomipramin dan fluoksetin. Seperti dapoksetin, keduanya dikenal sebagai obat gangguan jiwa. Kata Wimpie, obat itu manjur untuk mengatasi penyakit ejakulasi dini. "Sebanyak 80% pasien bisa disembuhkan dengan obat itu," ujarnya.

Aries Kelana, Alfian, dan Anton Muhajir (Denpasar)
[Kesehatan, Gatra Nomor 29 Beredar Senin, 30 Mei 2005]
sumber : Gatra
Read more.....

Jumat, 15 Februari 2008

Manusia dan Orang

Orang selalu punya harapan dan cita-cita. Entah itu yang baik ataupun yang nggak bener. Dan orang selalu saja beranggapan bahwa apa yang dia inginkan pasti bakal tercapai. Its okey, tapi mereka pada pelupa ya bahwa ada yang selalu menentukan atas apa yang selalu jadi harapannya itu, yaitu Allah SWT. Dan atas kelupaannya itu diapun jadi fatal tindakannya, stress kalo gagal dan lupa diri bila berhasil.

OOO..orang, and manusia beda apa kagak ya, maunya baik-baik aja padahal apa yang dianggapnya baik itu belum tentu bagi dirinya baik juga, dan apa yang di pandangnya buruk itu belum tentu juga buruk bagi dirinya. Makanya sobat jangan berusaha menggelapkan mata terhadap keyakinan yang benar, bukalah jendela hati biar angin keimanan selalu menerpa dan menyejukkan hidup ini. Biar kagak mudah stress and mabuk duniawi yang bikin pusing mahluk2 lain, kasihankan yang nggak bersalah jadi senewen gara2 kita, he..he... . O ya kalo pada sakit ati sudah tahu belum ya obatnya tuh yang suka di kaset2 itu, bagus bener kalo kita mau mengamalkannya.


Tapi sulit sih, tapi juga kalo memang benar2 mau terbebas dari ini penyakit ya harus dipaksa jalaninnya okey. Sudah dulu ya , postingan perdana ini, sukses buat yang bercita2 baik and mulia. Amiin.

Read more.....